Selasa, 25 Mei 2010

Balada Gadis Keluarga Ekstrimis Hindu Menuju Hidayah Allah


MUMBAI (Berita SuaraMedia) – Ini adalah kisah dari seorang gadis yang, sebelum memeluk Islam, berasal dari sebuah keluarga yang terkait dengan organisasi ekstrimis Hindu, Shiv Sena. Nama gadis itu Kavita, yang kemudian dia ubah menjadi Nur Fatima setelah masuk Islam.
Nur Fatima lahir di Mumbai 30 tahun lalu namun pengetahuannya tentang Islam masih setara dengan seorang anak Muslim berusia lima tahun. Setelah menempuh pendidikan di Mumbai, Fatima melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan gelar masternya, dia mengikuti banyak kursus komputer. Fatima mengaku menyesal telah meraih banyak gelar keduniawian namun belum meraih apa pun untuk akhirat. “Sekarang saya ingin berbuat sesuatu untuk tujuan itu,” ujarnya.
Fatima menikah di Mumbai dan kemudian ikut suaminya pindah ke Bahrain. Pernikahan mereka menghasilkan dua anak laki-laki.
Lingkungan di mana dia tumbuh besar adalah ekstrimis Hindu yang sangat membenci kaum Muslim. Dia baru memeluk Islam setelah menikah namun sudah lama tidak menyukai pemujaan berhala. “Saya ingat bahwa pernah suatu ketika saya memindahkan sebuah berhala ke dalam kamar mandi di rumah saya. Ketika ibu saya menegur, saya mengatakan, ‘Jika benda itu tidak bisa melindungi dirinya sendiri kenapa ibu mencari keberkahan darinya? Kenapa ibu bersujud di hadapannya? Apa yang telah dikabulkannya untuk ibu?’”
“Ada ritual di dalam keluarga kami bahwa ketika seorang gadis menikah, dia mencuci kaki suaminya dan meminum air cucian itu. Tapi saya menolak untuk melakukannya sejak hari pertama yang membuat saya dimarahi habis-habisan,” ujar Fatima.
Ketika mengikuti sekolah untuk pendidikan mengajar, Fatima, yang terbiasa bepergian sendirian dengan mobilnya, mulai mengunjungi Islamic Centre terdekat. “Saya mendengar percakapan mereka dan mengetahui bahwa kaum Muslim tidak memuja berhala. Mereka mencari berkah dari orang lain. Bhagwan mereka adalah orang lain. Saya suka sudut pandang mereka. Kemudian saya tahu bahwa Allah-lah yang mengabulkan segalanya,” ujar Fatima menjelaskan.
Ibadah kaum Muslim membuat Fatima terkesan. Awalnya dia tidak tahu bahwa ibadah itu disebut sholat. “Namun, saya tahu bahwa semua Muslim melakukannya. Pada awalnya, saya kira itu semacam olahraga. Kemudian saya tahu bahwa itu disebut sholat ketika saya mulai mengunjungi Islamic Centre,” ujar Fatima.
Setelah menikah, Fatima pindah ke Bahrain yang banyak membantunya dalam memahami Islam. Karena Bahrain adalah negara Muslim, rumah Fatima dan keluarga barunya dikelilingi oleh kaum Muslim. Dia berteman dengan seorang gadis Muslim. “Dia jarang mengunjungi saya. Saya yang seringkali mengunjungi dia.”
Suatu hari, gadis itu melarang Fatima mengunjungi rumahnya karena saat itu adalah Ramadhan, bulan ibadah. “Ibadah saya terganggu dengan kunjunganmu,” ujar teman baru Fatima itu.
Karena ingin tahu tentang ritual ibadah yang dilakukan kaum Muslim, Fatima menjadi semakin penasaran dan meminta gadis itu untuk tidak melarangnya berkunjung. “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Saya hanya akan melihat kau melakukan semua itu. Saya tidak akan berkata apa-apa dan akan mendengarkan apa pun yang kau baca,” ujar Fatima. Gadis Muslim itu pun tidak lagi melarangnya.
Ketika melihat gadis itu beribadah, Fatima tertarik untuk menirunya. Kemudian dia menanyakan tentang “olahraga” itu pada si gadis. “Dia memberi tahu saya bahwa mereka menyebutnya Sholat. Dan buku yang biasa dia baca adalah kitab suci Al Qur’an. Saya ingin melakukan semua itu.”
Fatima kemudian sering mengunci diri di dalam kamar dan menirukan apa yang dilakukan oleh temannya itu. Suatu hari dia lupa mengunci pintu dan mulai melakukan sholat ketika suaminya masuk ke kamar. “Dia bertanya apa yang saya lakukan, saya jawab saya sedang sholat,” ujar Fatima. Suaminya berkata, “Apa kau gila? Apa kau tahu apa yang kau katakan itu?” Awalnya Fatima merasa ketakutan, tapi tiba-tiba dia merasakan kekuatan hebat di dalam dirinya yang membuatnya cukup berani untuk menghadapi situasi itu.  Dia berteriak bahwa dirinya telah masuk Islam karena itu dia melakukan sholat. Suaminya mulai marah, “Apa?! Apa yang kau katakan? Ulangi kata-katamu!” Fatima pun mengulangi kata-katanya dengan menambahkan tekanan, “Ya! Saya telah masuk Islam.” Mendengar pengakuan itu, suaminya mulai memukuli Fatima. Mendengar ribut-ribut tersebut, saudara perempuan Fatima datang dan berusaha menyelamatkannya. Tapi ketika sang suami menceritakan apa yang terjadi, saudara Fatima pun ikut memukulinya.
Saat peristiwa itu terjadi  anak-anak Fatima sedang tidak berada di rumah. Anak tertuanya saat itu berusia sembilan tahun dan adiknya delapan tahun. Namun sejak saat itu dia tidak dibolehkan bertemu dengan siapa pun. Dia dikunci di dalam kamar. Meskipun belum secara resmi memeluk Islam, Fatima telah mengucapkan kata-kata bahwa dirinya telah masuk Islam. Suatu malam ketika dia dikunci di dalam kamar, anak tertuanya masuk dan menangis di dalam pelukannya. “Saya bertanya di mana anggota keluarga yang lain. Dia mengatakan bahwa mereka pergi menghadiri festival relijius dan tidak seorang pun ada di rumah.”
Anaknya meminta Fatima untuk pergi dari rumah karena keluarga mereka ingin membunuhnya. Fatima menenangkan sang anak bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi, bahwa mereka tidak akan menyakiti dirinya. Tapi sang anak terus memaksanya pergi. “Saya berusaha membuatnya paham bahwa jika saya pergi saya tidak akan bisa menemui mereka, tapi dia menjawab bahwa saya bisa menemui mereka hanya jika saya masih hidup,” ujar Fatima. Dia pun memutuskan untuk pergi. Kedua anak laki-lakinya mengantarkan kepergian sang ibu dengan air mata. “Saya tidak akan pernah bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali saya mengingat peristiwa itu, saya teringat kaum Muslim yang meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi Islam.”
Setelah itu Fatima langsung menuju ke kantor polisi. Dia meminta mereka mengijinkannya beristirahat sejenak sebelum menceritakan apa yang terjadi. Setelah beberapa waktu menenangkan diri, dia memberitahu polisi bahwa dirinya telah meninggalkan rumah dan ingin masuk Islam. Sang polisi yang juga seorang Muslim berjanji akan membantunya sebisa mungkin. Fatima dibawa ke keluarga sang polisi dan memberikannya perlindungan di rumah mereka.
Keesokan paginya, suami Fatima menghubungi kantor polisi untuk meminta bantuan dengan mengatakan bahwa sang istri telah diculik. Namun, polisi memberitahunya bahwa Fatima tidak diculik melainkan pergi atas keinginan sendiri. Dan karena Fatima ingin masuk Islam maka sang suami yang bukan seorang Muslim tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya sehingga Fatima tidak bisa pergi bersamanya. Suami Fatima bersikukuh dan mengancam namun Fatima tetap menolak, bahkan mengatakan bahwa sang suami bisa mengambil semua harta benda miliknya namun dia tidak akan pergi bersamanya. Melihat kekerasan hati Fatima, sang suami menulis pernyataan untuk mengambil semua harta benda Fatima.
Setelah itu Fatima pergi ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa hari untuk luka-luka yang dideritanya akibat pemukulan oleh suami dan saudaranya itu. Keluar dari rumah sakit, Fatima langsung pergi ke Islamic Centre. Di sana dia mengutarakan niatnya untuk masuk Islam. Seorang pria tua yang sepertinya tinggal di sana mengatakan padanya, “Anakku, sari ini bukan pakaian seorang Muslim. Pergilah, kenakan jilbab dan tutupi dirimu seperti seorang Muslim.” Fatima pun pergi membeli busana Muslim dan kembali ke tempat itu. Kakek itu kemudian memberitahunya bagaimana cara berwudhu. Setelah bersuci, Fatima dibawa ke sebuah ruangan. Di sana pria tua itu menjawab semua pertanyaan Fatima tentang Islam dan menuntunnya membaca dua kalimat Syahadat.
Pemilik Islamic Center itu kemudian mengadopsi Fatima sebagai putrinya dan membawanya pulang ke rumah. Kemudian, dia mengatur pernikahan Fatima dengan sebuah keluarga Muslim.
Impian pertama Fatima adalah untuk melihat rumah Allah dan dia pun telah mewujudkannya dengan menunaikan umroh. (rin/hi) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar