Selasa, 25 Mei 2010

Pesona Islam, Menghantarkanku Berislam

Keyakinanku akan trinitas mengalami guncangan tatkala di suatu malam Idul Fitri. Aku terjaga mendengar suara takbir
Hidayatullah.com--Hidayah, merupakan hak mutlak milik Allah semata. Siapapun ia, baik itu dari golongan manusia, malaikan, dan jin, tidak akan pernah mampu memberikannya kepada siapa yang ia kehendakai, tak terkecuali terhadap familinya sendiri. Begitulah yang terjadi pada diri Nabi Nuh. Meskipun beliau sebagai Nabi --bahkan termasuk ulul ‘azmi-- tetapi tetap beliau tidak mampu menghembuskan hidayah ke sanubari anaknya. Maka, matilah anaknya dalam kekafiran.
Kisah yang hampir sama, juga dialami oleh baginda Rosulullah Solallahu ‘alai wasallam. Betapa besar harapan beliau, agar pamannya, Abu Tholib, dengan lapang dada mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah (sebagai syarat keislaman seseorang), selagi nyawa masih dikandung badan. Takdir berkata lain, hingga ajal mejemput, kalimat yang akan menyelamatkannya dari siksa api nereka, juga tidak terucap.
Begitu pula sebaliknya, ketika Allah telah memutuskan untuk memberi petunjuk terhadap manusia yang ia kehendaki, maka, satu makhlukpun tidak akan mampu menghalanginya. Hamba tersebut akan mengecap manisnya keimanan, meskipun, kalau ditinjau dari segi umur, hamba tersebut masih tergolong amat belia. Dalam hal ini, Ali bisa dijadikan contoh.
Ilustrasi di atas, sangat mirip dengan perjalanan spiritualku, dalam mendapatkan cahaya Islam, beberapa belas tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Aku adalah anak ke dua dari delapan bersaudara. Terlahir di tengah-tengah keluarga yang menganut agama Nasrani. Untuk menjaga orisinalitas paham trinitas, orangtua senantiasa mendoktrinku tentang ajaran Kristen, setiap kali hendak makan malam. Karenanya, meskipun masih tergolong usia dini (9-10), sedikit-banyak ajaran Kristen sudah aku kuasai.
Namun, keyakinan yang selama ini aku pegang sedari lahir, mengalami “goncangan”, ketika suatu malam, tepatnya pada malam hari raya ’Idul Fitri, aku terjaga dari tidur, karena mendengar suara takbir yang menggelora, memecahkan keheningan malam.
Lantunan tersebut sangat menyejukkan hatiku. Tanpa disadari, air mata pun meleleh karenanya.
”Apa yang membuatku menangis?. Bukankah kalimat-kalimat ini sering aku dengar, tiap kali kaum Muslim  memperingati hari-hari raya mereka. Tapi kenapa, sekarang terasa beda. Seolah timbul kesejukan di hati karenanya?” ujarku dalam hati.
Peristiwa yang terjadi malam itu, terus berlanjut keesokan harinya. Menyaksikan kaum muslimin yang berpakaian rapih dengan semangat menuju masjid untuk melaksanakan shalat Id, ikut mengguncang batinku. Melihat kekompakan antar mereka –saling sapa, senyum, bersalam-salaman-- sangat membuatku terasa iri.
Bulu kudukku pun berdiri manyaksikannya. Air mata tak terbendung lagi. Heran melihat perilakuku yang tidak seperti biasanya, orangtuaku menanyai akan perihal yang telah membuat hatiku sedih. Untuk menutup peristiwa ini, aku jawab sekenanya.
”Enggak, bu, tidak ada apa-apa kok,” timpalku singkat.
Dijemput Cahaya
Menjadi seorang hakim adalah cita-citaku. Sebab itu, saya sangat antusias, ketika ada seorang tokoh Islam mengajakku untuk ke pesantren, yang jaraknya ratusan kilo dari rumah. Tentusaja aku masih seorang pemeluk Kristen. Sebab pikirku saat itu, pesantren adalah sekolah favorit, yang bisa dijadikan jalan untuk menggapai cita-cita.  Orangtuaku pun setuju dengan seruan ustadz ini. Karena memang dari segi finansial, mereka termasuk golongan yang berada.

Untung tidak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika kaki menginjak pesantren, gambaran akan megahnya gedung, lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran seketika hilang dari benak pikiran ketika menyaksikan kondisi fisik pesantren, yang menurut saya –maaf-- pada saat itu sangat memprihatinkan. Bayangkan, bangunannya hanya terdiri dari tiga buah gedung, yang terbuat dari papan, plus satu masjid. Rinciannya, satu bangunan untuk pengurus, satu lagi untuk asrama, dan satu lagi untuk ruang belajar. Maka wajar, secara spontanitas aku menolak, dan mendesak untuk balik pulang.
Setelah dibujuk oleh ustadz yang mengantarkanku dan pimpinan pesantren, aku akhirnya tunduk untuk tetap tinggal, “Coba dulu. Nanti, kalau memang tidak kerasan 1-2 minggu, baru kamu boleh pulang. Yang penting sekarang dicoba dulu,” ujar mereka menasehati.
Jujur, yang membuat saya tertarik untuk menerima tawaran ini, bukan semata-mata karena ucapan ustadz ataupun pimpinan. Terdapat pemandangan baru di pesantren ini, yang mana tidak pernah saya nikmati sebelummnya. Dan pemandangan tersebut sangat menyentuh hati.  Dan itu terjadi ketika menyaksikan para santri berduyun-duyun pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dengan berpakaian rapih, serta mententeng Al-Quran. ”Sungguh menakjubkan! Indah sekali kehidupan para santri di sini.”
Mereka sangat bersemangat lagi rapi-rapi, dan saling menyayangi,” ungkapku dalam hati. Peristiwa inilah yang paling mendasari keputusanku.
Meskipun dari sekian penghuni pesantren, cuma aku yang beragama Nasrani, tapi teman-teman tidak pernah mengasingkanku, lebih-lebih pimpinannya. Masih sangat terngiang di ingatanku bagaimana beliau berujar pada suatu hari, ”Kamu silahkan mau tidur di sini. Mengenai kegiatan-kegiatan pesantren, kalau kamu minat untuk mengikuti, ya, silahkan. Kalau tidak, pun tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah memaksamu untuk masuk Islam,” jelasnya dengan rendah hati.
Suatu hari,  setelah beberapa bulan di pesantren, timbul keinginanku untuk belajar membaca Al-Quran. Sebabnya, saya pernah mendengar pimpinan mengaji dengan begitu merdunya, sehingga menuntutku untuk menyimak ngaji tersebut secara diam-diam. Saat itu batinku pun berkata, ”Kenapa bacaan seindah ini, tidak pernah aku temukan saat medengarkan Bible?”
Hal ini semakan menambah minatku untuk belajar membacanya. Aku minta temanku untuk mengajariku, hampir setiap hari. Subhanallah! Jika tidak karena  pertolongan Allah, mungkin tak terjadi. Hanya dengan waktu yang relatif singkat (3-4 bulan), saya telah mampu membaca Al-Quran dengan lancar. Tidak cukup itu saja, baca-bacaan sholat juga telah kuhafal, termasuk juga surat-surat pendek dari juz ’Amma.
Terbitnya Hidayah Islam
Di pehujung sekolah dasar, batinku mengalami goncangan yang sangat dahsyat. Aku dibingungkan dengan kondisiku saat itu, sebagai seorang Nasrani, namun, juga mengikuti beberapa ajaran Islam seperti sholat. Bahkan, beberapa surat dari Al-Quran sudah aku hafal.
Diam-diam aku berfikir, bagaimana reaksi orangtuaku sekiranya mereka mengetahui aku mempelajari Al-Quran? Dan menyimpang agama nenek moyang kami?  Namun di lain pihak, aku semakin merasakan akan kebenaran agama Islam.
Setelah melakukan perenungan yang begitu rumit, akhirnya aku putuskan untuk berislam, dengan konsekwensi, siap menanggung apapun yang menghadang, termasuk keluargaku sendiri.
Suati pagi, setelah keputusanku itu bulat, aku menghadap pimpinan. Saya utarakan maksud dan tujuanku, bahwa saya ingin masuk Islam. Setelah mendengar penuturanku, seketika beliau menangis tersedu-sedu seraya memelukku. Setelah itu, dengan masih dilinangi air mata, beliaupun langsung sujud (sujud syukur). Menyaksikan hal ini, butiran beningpun keluar dari pelopak mataku.
”Kalau memang keputusanmu sudah bulat, setelah shalat jama’ah dhuhur, kamu ucapkan syahadat dengan saksi para jama’ah shalat,” terang beliau dengan terbata-bata.
Seusai sholat jama’ah, aku pun dianjurkan oleh pimpinan untuk maju ke depan. Dengan hati yang bergemuruh, aku langkahkan kaki. Ketika mengadahkan pandangan ke  para jama’ah yang hadir, mataku langsung tertuju pada sosok laki-laki yang tidak asing lagi bagiku.  Ia berderaikan air mata yang begitu derasnya. Tersirat dari kedua matanya akan keharuan peristiwa yang aku alami. Tidak lain laki-laki tersebut adalah ustadz yang yang berasal dari kampungku, yang telah “menjerumuskanku” mengenal nikmat Islam di pesantren. Akupun akhirnya tak kuasa menahan air mata. Setelah aku mengucapkan dua kalimat syahadat dengan dipandu oleh pimpinan pesantren, aku mengucapkan, “Asyhadu An-Laa Ilaaha Illallâh.Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.”
Usai aku membacakan kalimay syahadat, hujan takbirpun memecahkan keheningan seluruh masjid. Sejak itu, resmilah aku berpindah agama, tanpa sepengetahuan orangtuaku.
Sekelumit Duri
Tidak ada jalan mulus untuk meraih ridha-Nya. Semua butuh perjuangan, semua butuh pengorbanan. Begitu pula yang aku alami, setelah memproklamirkan diri sebagai muslim, keluarga adalah tantangan beratku, terutama kedua orangtua. Mereka sangat marah dengan mengetahui keislamanku.
“Mulai dari nenek moyangmu dulu, tidak ada satupun keluarga kita yang pernah ganti agama,” bentak mereka.
Bahkan, puncaknya, mereka mempersilahkan saya untuk keluar rumah, apabila masih tetap berpegang teguh dengan pendirianku. Syukurnya, nenek, menahan langkah kakiku, dan marah kepada kedua orangtuaku. “Kalau kalian berani mengusirnya, justru saya yang akan mengusir kalian dari rumah ini,” tegasnya kepada kedua orangtuaku. Akhirnya, akupun tidak jadi keluar rumah.
Setelah beberapa lama tinggal seatap dengan keluarga yang semuanya berbeda keyakinan denganku, aku merasa perlu berhijrah, demi menyelamatkan keimananku. Aku takut, lambat laun, iman yang telah lama kusemai, layu dan mati karena tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Karena itu, aku pamitan kepada mereka untuk tinggal di rumah teman (beragama Islam) yang letaknya ada di desa sebelah. Merekapun mengiakan.
Semenjak itu aku tidak lagi tinggal bersama mereka. Meskipun demikian, hubungan kami telah mencair, bahkan tidak jarang mereka mengirimiku uang saku.
Saat ini, aku sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam di Surabaya. Besar harapanku, sepulang dari menuntut ilmu ini, aku bisa mengamalkannya di kampung halaman, terkhusus menghantarkan seluruh keluargaku untuk masuk Islam.
Pesanku kepada saudara-saudara muslim tercinta, tunjukkanlah perilaku seorang muslim sejati, yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh syari’at. Karena boleh jadi, musuh-musuh Islam membenci agama ini, karena kesalahan kita sendiri yang tidak mampu mencerminkan sosok muslim yang sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh agama hanif ini. Perilaku Rosulullah, tauladan kita, harus menjadi pijakan dalam setiap gerak-gerik keseharian kita. [Kisah ini disampaikan oleh Lossa, pria asal Seppa, Ambon, kepada hidayatullah.com/Robin Sah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar